Kita Tak Bisa Bahagiakan Semua Orang

Pragmatis tidak haram Gaya bermain pragmatis memang seolah menjadi hal yang dibenci oleh pencinta sepak bola yang mengedepankan permainan indah. Publik tentu lebih senang melihat gaya permainan dari kaki ke kaki di Arsenal sejak dilatih oleh Arsene Wenger. Begitu juga dengan permainan tiki-taka ala pelatih Josep Guardiola, terutama saat menukangi Barcelona. Puja dan puji pun mengalir terhadap anak-anak asuhan Guardiola. Apalagi, selain bermain indah, mereka pun meraih sejumlah trofi bergengsi, bahkan 6 di antaranya terjadi pada tahun kalender yang sama. Idealnya memang sepak bola bisa memberikan kebahagiaan bagi semua orang. Namun, tidak semua orang bisa dibahagiakan pada saat bersamaan. Ketika Barcelona menjadi juara, tentu suporter Real Madrid menjadi pihak yang paling merasakan tidak bahagia. Ada beberapa hal yang membuat seseorang tidak bisa membahagiakan semua orang. Salah satunya keterbatasan sumber daya. Bukankah tak mungkin kita selalu membantu semua orang yang membutuhkan ketika kita pun punya keterbatasan kemampuan? Namun, bukan berarti keterbatasan itu menjadi penghalang bagi kita dalam membahagiakan orang lain. Dengan memiliki keterbatasan, kita tentu akan memilih berdasar skala prioritas siapa yang membutuhkan kebahagiaan dari kita. Seorang kepala rumah tangga, pasti akan lebih mendahulukan keluarga intinya untuk dibahagiakan, baru keluarga besar dan teman-temannya. Seorang pelatih sepak bola, tentu menempatkan suporter yang senantiasa memberi dukungan dalam setiap kesempatan sebagai prioritas utama. Karena hal itulah, permainan pragmatis muncul. Sadar keterbatasan dengan kemampuan yang dimiliki timnya, seorang pelatih akan mengandalkan segala cara – selama tidak bertentangan dengan law of the game – agar timnya meraih kemenangan. Ambil contoh Yunani saat menjadi juara Piala Eropa 2004. Otto Rehhagel paham bahwa Angelos Charisteas dkk kalah dari segi kemampuan individu dari skuad tim-tim besar Eropa. Namun, Yunani punya semnangat juang tinggi khas orang-orang Sparta. Hal itulah yang dimanfaatkan Rehhagel. Dia membangun timnya berdasar pada kekokohan lini pertahanan. Kemampuan menyerang sehebat apa pun, akan selalu bisa diimbangi oleh lini pertahanan yang memiliki semangat juang tinggi, selalu fokus, dan selalu berupaya meminimalkan kesalahan. Begitu juga dengan Jose Mourinho pada periode keduanya bersama Chelsea. Saat menjuarai Premier League 2014-2015, permainan The Blues mungkin tidak menarik dilihat karena monoton, pragmatis, dan cenderung “parkir bus” ketika sudah unggul. Hal yang sama dilakukan Atletico Madrid di bawah Diego Simeone. Bagi sebagian orang, taktik Simeone ketika menghadapi tim besar dianggap “cupu” sehingga membuat pertandingan tidak menarik ditonton. Akan tetapi, it works. Lihat saja ketika Atletico menyisihkan Bayern Muenchen dengan Guardiola sang dewa permainan indah di kursi pelatih pada semifinal Liga Champions 2015-2016. Bayern selalu lebih mendominasi, tetapi justru Atletico – dengan penguasaan bola sekitar 30 persen – yang bisa melangkah ke final. “I won’t say we have to win. I won’t put that pressure. But we can’t lose.” – Jose Mourinho

Sumber: Juara.net