Kawasan Asia-Pasifik Miliki Risiko Tertinggi Dampak Perubahan Iklim

pt solid gold berjangka Kawasan Asia dan Pasifik dinyatakan memiliki risiko tertinggi untuk mengalami kemiskinan dan bencana lebih dalam akibat perubahan iklim yang berkepanjangan.

Laporan Asian Development Bank (ADB) menjelaskan bahwa dampak perubahan iklim berkepanjangan terhadap kawasan yang dihuni oleh sekitar dua pertiga dari jumlah total warga miskin di dunia itu akan membalikkan pencapaian pembangunan saat ini.

Wilayah Asia akan mengalami kenaikan suhu sebesar 6 derajat Celsius (10,8 derajat Fahrenheit) pada akhir abad ini di bawah kondisi yang berlaku saat ini,” papar ADB dalam pernyataannya, seperti dikutip dari Bloomberg (Jumat, 14/7/2017).

Pernyataan tersebut dibuat berdasarkan temuan yang tercantum dalam laporannya dan Potsdam Institute for Climate Impact Research yang menganalisis risiko iklim di kawasan Asia dan Pasifik.

“Beberapa negara di kawasan ini dapat mengalami iklim yang jauh lebih panas, dengan kenaikan suhu di Tajikistan, Afghanistan, Pakistan, dan barat laut China yang diproyeksikan mencapai 8 derajat Celcius,” jelas ADB.

Iklim yang lebih panas disebut akan menyebabkan perubahan drastis dalam sistem cuaca, sektor pertanian dan perikanan, keanekaragaman hayati tanah dan laut, keamanan dalam negeri dan regional, perdagangan, pembangunan perkotaan, migrasi, dan kesehatan di kawasan itu.

“Bahkan dapat menimbulkan ancaman eksistensial terhadap beberapa negara,” lanjut ADB. pt solid gold berjangka

Temuan ini menggarisbawahi perlunya kawasan tersebut untuk mengurangi emisi gas rumah kaca seiring dengan kesepakatan yang disetujui oleh masyarakat global di bawah kesepakatan Paris.

Kesepakatan iklim Paris mengakui ancaman perubahan iklim serta menetapkan langkah-langkah untuk membatasi kenaikan suhu global. Kesepakatan itu mengikat sejumlah negara untuk menjaga kenaikan temperatur global di bawah 2 derajat celcius serta berupaya mengeksplorasi strategi yang lebih baik demi mengurangi dampak perubahan iklim.

Tahun lalu, ADB menyetujui pendanaan iklim senilai US$3,7 miliar dan berkomitmen untuk terus meningkatkan investasinya menjadi US$6 miliar pada tahun 2020.

Laporan itu juga menjelaskan bahwa dampak perubahan iklim akan mempersulit produksi pangan di kawasan tersebut serta meningkatkan biaya produksi. Di beberapa negara di Asia Tenggara, hasil panen padi bisa turun hingga 50% pada tahun 2100 jika tidak ada upaya adaptasi yang dilakukan.

Berdasarkan data World Health Organization (WHO), kematian warga lanjut usia akibat cuaca panas di wilayah itu diperkirakan meningkat sekitar 52.000 kasus pada tahun 2050 akibat perubahan iklim.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *