Apep Hendrawan, Chef Dengan Prestasi Menawan

Suara.com – Tak berlebihan rasanya bila predikat sebagai chef dengan segudang prestasi menawan disematkan pada Apep Hendrawan. Bagaimana tidak, selain memiliki begitu banyak medali dan penghargaan yang pernah disabetnya di dunia kuliner, lelaki asal Tasikmalaya, Jawa Barat ini pun memiliki segudang pengalaman bekerja di hotel-hotel ternama, mulai dari Hotel Hilton Jakarta, Shangri-La Jakarta bahkan hingga hotel tertinggi sekaligus termegah di dunia yaitu, Burj Al Arab di Dubai, Uni Emirat Arab. Semua pengalaman dan prestasi membanggakannya itu diraih oleh lelaki yang akrab disapa Chef Apep ini, tentu saja berkat kerja keras dan ketekunannya. “Saya merintis karier memang benar-benar dari nol, dari tingkat paling bawah yaitu cook helper di Hotel Hilton Jakarta dan saya selalu berusaha memberikan hasil terbaik apapun levelnya dan dimanapun saya bekerja,” ceritanya saat ditemui suara.com di Hotel Gran Melia Jakarta, beberapa waktu lalu. Segudang Prestasi Prinsip yang dipegangnya inilah yang kemudian mengantarkan seorang Apep menjadi chef yang berprestasi, baik di tingkat nasional maupun internasional. Misalnya, ia pernah menyabet Gold Medal, Les Toques Blanc Jakarta, in class Cold Sea Food Platter (1991), Bronze Medal, 8th FHA International Salon Culinaire Food and Hotel Asia Singapore, In class Buffet Platter (1992), Gold Medal, Salon Culinaire Jakarta in Class Plated Appetizer (1997), Chaine des Rotisseurs Burj Al Arab, Dubai (2004 dan 2006), dan masih banyak lagi. Chef Apep sendiri mengaku sama sekali tidak menyangka bakal meraih prestasi dari profesi yang sebelumnya tak pernah dicita-citakannya itu. Baginya, dahulu memasak hanyalah sekadar hobi lantaran waktu kecil sering melihat ibundanya memasak. “Saya senang membantu ibu memasak bahkan waktu remaja saya sudah bisa bikin nasi goreng, tapi nggak pernah bercita-cita menjadi chef atau koki,” jelas lelaki kelahiran 23 Desember 1962 ini. Selepas Sekolah Menengah Atas (SMA), Apep justru tertarik melanjutkan kuliah di fakultas hukum. Keinginannya itu kemudian ia wujudkan di sebuah universitas swasta di Bandung. Namun, baru menjalani kuliah sekitar satu tahun, Apep terbang ke Jepang karena mendapatkan beasiswa pendidikan teknik mesin. “Selama setahun lebih saya kuliah di Jepang. Disitulah saya bertemu seorang teman lulusan Akademi Pariwisata NHI Bandung. Dia sering cerita soal pengalamannya di dunia kuliner. Wah kayaknya menyenangkan sekali, disitulah saya ingin mempelajarinya lebih jauh,” kenangnya. Berawal dari rasa ketertarikan itulah yang membuat Chef Apep ingin kuliah di Akpar NHI setelah menyelesaikan pendidikannya di Jepang. Padahal ia sempat mendapat tawaran kerja sesuai disiplin ilmunya di teknik mesin, tapi kesempatan itu tidak diambilnya karena sudah mantap ingin merintis karier di bidang perhotelan. “Orangtua sempat menanyakan kenapa nggak dari dulu aja ambil kuliah di NHI. Lantas saya jawab, kalau dulu memang belum tertarik. Mungkin memang harus begini prosesnya. Akhirnya pada 1985 saya daftar ke NHI bagian food production ,” tuturnya. Setelah lulus dari Akpar NHI, Chef Apep menjalani training di beberapa hotel seperti Hotel Mandarin, Hotel Borobudur dan Hotel Hilton Jakarta. Ia mengaku bangga mendapat kesempatan training di hotel-hotel ternama itu, terutama ketika menjalani training di Hotel Hilton Jakarta yang merupakan hotel sangat prestisius di era 80-an hingga 90-an. “Meski saat training nggak dibayar, saya nggak masalah karena itu kesempatan emas untuk mendapatkan ilmu berharga di hotel yang sedang jaya-jayanya,” ungkapnya. Dan, siapa yang menyangka setelah beberapa bulan menjalani training Chef Apep justru ditawari untuk bekerja di Hotel Hilton, menggantikan seorang karyawan yang mengundurkan diri. Di hotel itulah mulanya ia merintis karier sebagai cook helper. Puluhan Tahun Berkarier di Luar Negeri Setelah tujuh tahun berkarier di Hotel Hilton Jakarta dengan posisi terakhir sebagai Demi Chef, ia kemudian bergabung di Shang-rila Jakarta pada 1994. “Selama empat tahun saya bekerja di sana dengan posisi terakhir sebagai Sous Chef. Kemudian mendapat tawaran kerja di luar negeri saat Indonesia mengalami krisis moneter,” cerita penyuka musik jazz ini. Kesempatan emas itu tentu saja tidak disia-siakan olehnya, apalagi hotel yang menawarkan pekerjaan kepada Chef Apep adalah hotel bintang lima terkenal kelas dunia bernama Atlantis Paradise Island Hotel & Resort di Bahamas. Hotel yang memiliki seribu kamar tersebut sering dikunjungi oleh selebriti kelas dunia. “Saat pembukaan hotelnya saja, Michael Jackson ikut hadir dan masih banyak yang lainnya,” jelasnya. Di hotel itu, kata Chef Apep, selain dirinya ada juga Chef Degan — kini menjadi selebrity chef – yang bekerja di Atlantis Paradise Island. “Jadi, saya sudah kenal lama dengan Chef Degan. Dia rekan satu angkatan dengan saya dan selama satu tahun bekerja di hotel itu saya menjabat sebagai Production Chef,” ucapnya tersenyum. Setelah itu barulah ia pindah bekerja di hotel tertinggi sekaligus termegah di dunia yaitu, Hotel Burj Al Arab pada 1999-2009 sebagai Chef de Cuisine-Banquette Kitchen. Hotel yang terletak di Pantai Jumeirah, Dubai, Uni Emirat Arab ini, kata Chef Apep, memiliki tinggi 280 meter yang terdiri dari 60 lantai. Sejak berdiri, hotel ini sudah dikunjungi puluhan orang ternama kelas dunia seperti mantan petenis, Andre Agassi dan Roger Federer, serta mantan pembalap Formula 1 David Coulthard. Kariernya di dunia masak-memasak terus bersinar di Dubai selama 14 tahun. Balik ke Jakarta karena Rindu keluarga Selepas dari Burj Al Arab, Chef Apep kemudian bekerja di The Monarch Dubai hingga 2013 sebagai Head Chef – Banquette Kitchen. Setelah melalui rentang waktu itulah ia mengaku merasakan kerinduan untuk pulang ke Tanah Air tercinta, apalagi kala itu tinggal terpisah dengan keluarga tercintanya. “Yah, saya kangen dengan keluarga saya, istri dan tiga anak saya, terutama sama si bontot. Hampir setiap hari telepon, kalau sudah dengar suaranya, rasa rindu saya terbayar,” ungkap suami dari Meti Amalia ini. Kerinduan yang terus menerus dirasakannya inilah yang membuat Chef Apep akhirnya memutuskan untuk pulang kampung. Tahun 2013, ia pun bergabung di Hotel Grand Melia Jakarta sebagai Executive Sous Chef hingga sekarang. “Kalau mengikuti hati penginnya terus berkarier di luar negeri, tapi kerinduan saya untuk kembali berkumpul dengan keluarga jauh lebih kuat,” jelas lelaki yang gemar ngemil kerupuk opak dan rengginang ini. Alasan inilah yang membuatnya tidak menyesal telah memutuskan untuk kembali berkarier di Jakarta. Baginya kebersamaan dengan keluarga jauh lebih penting, apalagi ketiga anaknya: Erlangga Mahesa Pradika Putra (23), Yudhistira Maharditya Putra (20) dan Besa Puteri Andjani (10) sangat membutuhkan kehadiran dan perhatiannya. “Terutama si bontot yang masih kecil, lagi manja-manjanya, butuh perhatian ayahnya dan sangat dekat dengan saya,” cerita Chef Apep sembari menunjukkan koleksi foto keluarga yang disimpan di ponsel pintarnya. Terlihat sekali kalau lelaki ini tipikal family man . Ia begitu bersemangat setiap kali menceritakan saat-saat bersama dengan keluarganya. Chef Apep mengatakan ada kebiasaan rutin yang dilakukannya bersama istri dan ketiga anaknya setiap akhir pekan yaitu, jalan-jalan ke pusat perbelanjaan dilanjut dengan makan bersama di restoran atau nonton di bioskop. “Kalau lagi malas ke luar rumah, biasanya saya nonton film bisa sampai tiga DVD dan mendengarkan musik. Lalu menikmati masakan istri saya yang lezat,” jelas Chef Apep yang gemar menyantap masakan tradisional seperti soto ayam dan siomay ini. Meski piawai dalam hal memasak, tetapi kalau di rumah Chef Apep tetap mempercayakan soal masakan kepada istri tercintanya. Baginya bagaimana pun masakan isteri memiliki kelezatan yang berbeda. “Meski istri saya sempat minder, tapi karena saya motivasi dan kasih masukan, akhirnya dia pede masak untuk saya, dan nyatanya memang enak kok masakannya,” ucapnya bangga penuh tawa bahagia.

Sumber: Suara.com